Gas Subsidi: Barang Gaib di Kampung Sendiri

Sintang-Di kampung kami, gas elpiji 3 kilogram tampaknya telah naik kelas. Dari barang subsidi untuk rakyat kecil, ia menjelma menjadi barang langka yang hanya bisa ditemui oleh mereka yang “beruntung” atau “berhubungan”. Ironisnya, kelangkaan ini terjadi bukan karena gas tak datang, melainkan karena ia terlalu cepat menghilang.

Truk pengangkut gas rutin masuk. Tabung diturunkan. Pangkalan buka. Namun beberapa jam kemudian, papan informasi kembali menampilkan kata sakti yang sama: habis. Habisnya cepat, secepat kepercayaan warga yang terus diuji dari hari ke hari.

Lebih lucu lagi, gas yang katanya habis itu kerap muncul di luar pangkalan dengan harga yang sudah disesuaikan dengan “selera pasar”. Di warung, di pengecer tak resmi, bahkan ditawarkan secara diam-diam. Gasnya sama, warnanya sama, hanya jalurnya yang berubah dari subsidi menjadi komoditas.

Pangkalan, yang seharusnya menjadi garda terdepan penyalur hak rakyat kecil, justru tampak piawai memainkan dua peran. Di depan warga, stok terbatas. Di belakang, aliran gas terasa sangat lancar. Jika ini bukan sulap, entah apa namanya.

Alasan pun selalu tersedia: kuota kurang, sistem kacau, permintaan tinggi. Semua disalahkan, kecuali satu hal yang tak pernah mau disebut kejujuran. Padahal masyarakat tak meminta gas gratis, hanya meminta gas dibagikan sesuai aturan.

Ironisnya, semua ini terjadi di kampung sendiri. Di tempat di mana semua orang saling kenal. Namun rupanya, ketika subsidi bertemu peluang, rasa malu bisa dikesampingkan. Yang penting tabung berpindah, keuntungan bertambah, dan warga kembali antre esok hari.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, jangan heran bila kelak yang benar-benar habis bukan gas elpiji, melainkan kesabaran masyarakat. Dan ketika itu terjadi, jangan salahkan warga jika mulai bertanya: gas ini milik rakyat, atau milik pangkalan?(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *