BPBD Sintang Ingatkan Perusahaan Sawit Wajib Siaga Karhutla

Sintang– Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sintang, Abdul Sufriadi, menegaskan bahwa upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan tanggung jawab bersama. Ia mengingatkan bahwa keterlibatan semua pihak, termasuk masyarakat dan perusahaan perkebunan sawit, sangat penting dalam menekan risiko kebakaran, terutama saat musim kemarau yang mulai mengancam sejumlah wilayah di Kalimantan Barat.

“Pada prinsipnya, pencegahan dan penanganan karhutla bukan hanya tugas pemerintah. Ini adalah tanggung jawab kita bersama, termasuk masyarakat dan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Sintang,” kata Abdul(24/6/25)

Menurut Abdul, BPBD Sintang secara rutin menggelar rapat koordinasi bersama berbagai pemangku kepentingan, termasuk mengundang perusahaan sawit dalam apel siaga karhutla. Dalam setiap pertemuan tersebut, perusahaan diharuskan menunjukkan kesiapan mereka dalam menghadapi potensi kebakaran.

“Kita selalu undang perusahaan sawit untuk hadir dalam apel siaga bencana karhutla. Saat itu, kami tegaskan bahwa mereka wajib menyiapkan sarana dan prasarana pemadaman. Ini bukan pilihan, tapi kewajiban,” tegasnya.

Abdul menambahkan, perusahaan harus memiliki fasilitas seperti embung air, menara pantau, alat pemadam api ringan, hingga tim tanggap darurat yang siap diterjunkan sewaktu-waktu. Ia juga mengingatkan bahwa pembukaan lahan dengan cara membakar dilarang keras.

“Mereka harus menggunakan pola-pola modern dalam membuka lahan. Tidak boleh lagi membakar. Ini sudah jelas diatur dan harus dipatuhi,” ujarnya.

Seiring dengan meningkatnya suhu dan perubahan cuaca, risiko kebakaran lahan dinilai semakin tinggi. Oleh karena itu, BPBD mendorong deteksi dini dan mitigasi risiko melalui edukasi masyarakat, pemetaan wilayah rawan, serta patroli rutin.

Selain itu, BPBD juga menjalin kerja sama lintas sektor dengan TNI, Polri, Dinas Lingkungan Hidup, dan instansi terkait lainnya untuk memperkuat koordinasi lapangan. Abdul menyebut peran serta masyarakat juga sangat krusial dalam pelaporan dini apabila terjadi titik api.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Masyarakat adalah ujung tombak di lapangan. Mereka yang pertama tahu jika ada kebakaran. Maka kesadaran bersama adalah kunci mencegah bencana karhutla,” kata Abdul.

Ia berharap seluruh pihak aktif dan patuh terhadap aturan. “Kalau semua disiplin, kita bisa hindari bencana sebelum terjadi,” ucapnya.(cok)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *