SINTANG -Pemerintah Kabupaten Sintang menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Tim Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia atas selesainya penelitian dan produksi film dokumenter tentang tradisi Jandeh, salah satu warisan budaya Suku Dayak yang kini mulai tergerus zaman.
Apresiasi tersebut disampaikan Staf Ahli Bupati Sintang Bidang Perekonomian, Pembangunan dan Keuangan, Helmi, yang mewakili Bupati Sintang dalam pemutaran dan diskusi film bertajuk “Jandeh: Tradisi Dayak yang Tergerus Zaman” di Hotel Bagoes Sintang, Senin, 2 Maret 2026.
Helmi mengatakan, dipilihnya Kabupaten Sintang sebagai lokasi refleksi dan dialog kebudayaan merupakan kehormatan sekaligus momentum penting untuk membangkitkan kesadaran kolektif menjaga warisan leluhur. “Terima kasih sudah mengangkat tradisi Jandeh khas Suku Dayak di Sintang. Kegiatan seperti ini bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan untuk merawat identitas budaya,” ujarnya.
Menurut Helmi, tradisi bukan sekadar ritual turun-temurun, melainkan sistem nilai yang membentuk cara pandang, karakter, dan jati diri masyarakat. Tradisi Jandeh, kata dia, mengandung makna mendalam tentang kebersamaan, penghormatan terhadap alam, serta nilai spiritualitas yang luhur.
Namun, ia mengakui arus modernisasi dan globalisasi menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan tradisi lokal. Banyak warisan budaya perlahan memudar karena kehilangan ruang untuk diwariskan. Generasi muda, kata Helmi, kerap lebih akrab dengan budaya global ketimbang tradisi sendiri.
Karena itu, dokumentasi dan penelitian dinilai menjadi langkah strategis. Film dokumenter, menurutnya, menjadi medium efektif untuk merekam, mengedukasi, sekaligus menginspirasi. “Film ini menjembatani generasi lama dan generasi baru, antara nilai masa lalu dan realitas masa kini,” katanya.
Kegiatan tersebut dihadiri Tim Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, tokoh adat, tokoh budaya, mahasiswa, organisasi masyarakat, serta perwakilan organisasi perangkat daerah di lingkungan Pemkab Sintang.






