Polres Sintang Tanam Jagung Serentak Dukung Program Ketahanan Pangan Nasional

SINTANG – Polres Sintang ikut melaksanakan program penanaman jagung serentak secara nasional sebagai bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan. Kegiatan ini dilaksanakan di beberapa titik di wilayah Kabupaten Sintang.

Kapolres Sintang AKBP Sanny Handityo, S.H., S.I.K. menjelaskan, penanaman jagung di wilayah hukum Polres Sintang dilakukan secara bertahap di dua lokasi utama seluas 20 hektare, sementara masing-masing Polsek juga menyiapkan lahan di wilayahnya.

“Untuk lahan di sekitar Polres luasnya kurang lebih 10 hektare, dan penanaman akan dilakukan bertahap. Sementara di wilayah perbatasan tersedia lahan sekitar 40 hektare yang sedang kami olah agar lebih subur dan siap tanam,” jelas Kapolres.

Ia menambahkan, hasil panen jagung nantinya akan disalurkan melalui Perum Bulog, sesuai kesepakatan antara Polri dan Bulog dalam mendukung program ketahanan pangan nasional.

“Kami tidak bekerja sendiri. Polri menggandeng kelompok tani dan penyuluh lapangan untuk memastikan hasil tanam lebih optimal,” tambahnya.

Sementara itu, Bupati Sintang Gregorius Herkulanus Bala menyatakan bahwa pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan para kepala desa untuk mendukung penyediaan lahan di setiap wilayah.

“Beberapa desa sudah siap menjalankan program ini. Kami juga berkolaborasi dengan Fakultas Pertanian universitas lokal untuk memberikan edukasi kepada mahasiswa dan masyarakat dalam mendukung ketahanan pangan berkelanjutan. Target kami, program ini berjalan penuh pada tahun 2026,” ujar Bupati.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Sintang, Martin Nandung, menambahkan bahwa sejumlah desa sudah mulai menanam jagung tahun ini tanpa menunggu 2026.

“Dari 391 desa dan 16 kelurahan, masih sebagian kecil yang siap. Kami berharap semua desa yang memiliki lahan potensial dapat ikut serta. Penyuluh pertanian lapangan (PPL) kini mendampingi petani dari tahap pengolahan lahan hingga pasca panen,” jelas Martin.

Ia juga mengakui bahwa tantangan utama masih terletak pada biaya pengolahan lahan dan keterbatasan alat pasca panen, karena sebagian besar petani masih melakukan pemipilan jagung secara tradisional.(cok)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *